Kampus adalah tempat kaderisasi calon-calon pemimpin bangsa dimasa depan.Sudah sering disebutkan bahwa kampus adalah miniatur masyarakat dan itu memang tepat.Di kampus berbagai orang dengan berbagai latar belakang,ras,agama,pemikiran,ideologi dan kepentingan berkumpul dalam sebuah sistem.Tak ubahnya dalam sebuah masyarakat.Walapun memang tingkat kompleksitasnya tidak setinggi di masyarakat.Cerminan masyarakat di masa yang akan datang bisa dilihat dari kondisi kampus.

Sementara kampus sebagai tempat pengkaderan pemimpin masa depan bangsa memiliki arti bahwa kampus adalah sebuah tempat dimana input masyarakat yang masuk dibentuk oleh atmosfer dan dinamika sistem kampus sehingga ketika lulus ia telah terwarnai dan kelak akan mewarnai kehidupan masyarakat.Melihat angka kuliah di Indonesia yang cukup rendah yaitu hanya sekitar 18 persen ini menunjukkan bahwa hanya segelintir orang saja yang bisa mengecapi nikmatnya berkuliah dan dari segelintir orang inilah nantinya diharapkan terlahir para pengisi pos-pos strategis yang akan berperan dalam pembangunan bangsa,baik itu dalam bidang politik, intelektual, ekonomi maupun sosial dan budaya.Kader-kader kampus yang sedikit ini memiliki kapasitas intelektual yang lebih sehingga mereka berhak mengisi fungsi-fungsi kepemimpinan di masyarakat di berbagai bidang.

Kampus sebagai mata air memiliki makna bahwa dari kampuslah bermula berbagai gagasan,inspirasi,serta motor dalam hal ini sumber daya mahasiswanya yang akan mewarnai dan menentukan arah perjalanan bangsa.”Mata air-mata air” yang tersebar di seluruh Indonesia diharapkan dapat mengalirkan gagasan,inspirasi serta aksi dari motor-motor penggeraknya sehingga dapat “menghidupkan” gairah serta vitalitas pembangunan.

Untuk setiap kampus dengan tempatnya masing-masing, makna dari kampus sebagai mata air memberikan gambaran bahwa kampus adalah sebuah sumber keunggulan yang mentransfer keunggulannya itu  ke lingkungan sekitarnya layaknya mata air yang mengalirkan air ke lingkungan sekitarnya sehingga vegetasi disekitarnya tumbuh dengan subur.Kampus seharusnya dapat menjadi sumber energi pembangunan bagi lingkungan masyarakat yang ada disekitarnya.

Disinilah paradigma Center Of Excellence (pusat keunggulan) menampakkan bentuknya.Paradigma kampus sebagai Center Of Excellence manghendaki manajemen kampus menjadi sebuah menajemen yang rapih dan bisa menjalankan tujuan-tujuannya secara efektif dan efisien.Paradigma Center Of Excellence juga menghendaki kampus sebagi sebuah sistem dengan segala dinamikanya yang mencerminkan vitalitas dan gairah dalam membangun karakter mahasiswanya dengan sungguh-sungguh.Pendidikan yang dijalankan adalah pendidikan dengan basis pembangunan karakter.Sementara karekter yang dibangun adalah religious dan humanis.

Paradigma ini juga menuntut adanya maksimalisasi peran kampus dalam pengkajian produk-produk akademis dengan orientasi pembangunan kesejahteraan masyarakat.Paradigma ini menekankan kampus sebagai sebuah sistem yang menampilkan kesungguh-sungguhan serta profesionalitas tingkat tinggi dalam segala aspeknya.

Kampus sebagai Center Of Excellence menjunjung tinggi integritas dan menjaga nilai-nilai Good Governance jauh dari korupsi dan keculasan lainnya.Budaya korup baik itu dipraktekan oleh mahasiswanya melalui nyontek saat ujian atau menitipkan absen atau juga pemalsuan data skripsi maupun oleh birokrat kampusnya yang menyelewengkan dana mahasiswa nya adalah cerminan gagalnya proses pendidikan di kampus.Belum lagi bentuk-bentuk pelanggaran nilai integritas yang lain.Sepatutnya kampus adalah lembaga yang sangat menjunjung tinggi integritas.”Knowledge si power but character is more” kata sebuah ungkapan.Pengembangan karakter melalui penjagaan integritas merupakan harga mati bagi sebuah institusi pendidikan,sebab bila kondisinya antithesis akan menyebabkan proses ini berbalik hingga menjadikan kampus pencetak koruptor-koruptor pintar dan penjahat-penjahat canggih.

Kondisi saat ini masih banyak kampus di Indonesia yang terjebak pada antithesis dari paradigm tadi.Seperti umum diketahui masih banyak kampus yang pelayanannya jauh dari profesionalitas baik dalam pelayanan akademik maupun kualitas pengajaran.Hal ini akan terkait dengan standarisasi mutu atau akreditasi,efektifitas dan efisiensi otonomi serta akuntabilitas.

Hal ini makin miris jika ditambah adanya fakta tawuran antar mahasiswa berbeda kampus dan bentrokan fisik antara mahasiswa dengan birokrat kampusnya.

Jika kampus tidak mampu mencetak kader-kader masa depan yang berbudi dan berkualitas maka hal ini akan antithesis dengan apa yang diharapkan dari proses kaderisasi pemimpin masa depan bangsa.Jika mata air sudah tercemar maka ia akan mengalirkan racun dan permasalahan bagi masyarakat di sekitarnya.

Potensi pencemaran ini bukan hanya terjadi akibat proses dari sistem atau struktur sistem itu yang salah namun juga berasal dari faktor sosial dan budaya seperti atmosfer kehidupan sosial di kampus itu sendiri.Contohnya ada opini yang cukup mengkhawatirkan bahwa saat ini lembaga pendidikan sebagian cenderung menjadi “sarang kemaksiatan baru”.Sebagaiman kita ketahui free sex dan hedonisme telah cukup merebak di kampus-kampus di tanah air.Hal ini mempengaruhi pandangan hidup generasi muda tentang perannya di masyarakat.

Kondisi mengkhawatirkan lain adalah egoisme individu yang merupakan salah satu dampak dari borok hedonisme.Hal ini nampak dari ketidakpedulian dan ketidakpekaan mahasiswa atau generasi muda pada lingkungannya.Hal ini kurang sejalan  dengan apa yang diharapkan pada salah satu poin pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat.Ketidakpedulian ini juga bisa jadi bersumber dari apatisme dan lemahnya cakrawala berpikir.

Selanjutnya bentuk pengejawantahan lain dari paradigma ini adalah menyedari bahwa kampus berada pada irisan ketiga lingkungan yaitu lingkungan masyarakat ekonomi,lingkungan masyarakat politik,hukum dan peradilan serta masyarakat sipil.Oleh karenanya dalam kiprahnya kampus harus memberikan porsi yang seimbang pada ketiganya.Hal ini jika sudut pandang yang diambil adalah sudut pandang skala makro.

Dalam tataran yang lebih mikro kampus sebagai Center Of Excellence harus mengejawantah melalui program-program Community Development.Otonomi yang telah diberikan kepada kampus jangan sampai malah menjadikan bergesernya arah fungsi pengabdian masyarakat menjadi egoisme organisasi apalagi hingga kapitalisasi kampus.Sisi positif dari otonomi kampus adalah harapan adanya peningkatan performance kampus sebab kampus merupakan lembaga nirlaba yang secara teori kapasitas performance-nya bergantung dari donasi sponsor kini bisa mengalihkan dorongan berprestasinya menjadi bersumber pada mengusahakan kepuasan stakeholder.Communnity Development selain sebagai sarana yang bisa meningkatkan citra positif harus dipertahankan menjadi misi utama kampus sebab  apabila kampus kehilangan semangat dalam menjalankan misi itu,akan timbul lack of trust dari masyarakat yang pada gilirannya wibawa kampus sebagai mata air masyarakat akan hilang dan tujuan-tujuan utamanya akan tergerus.

Membangun kampus sebagai Center Of Excellence merupakan kerja besar yang sangat strategis untuk menentukan arah perjalanan bangsa dimasa depan.Ini harus merupakan kerja keras dari semua pihak.

Muhammad Fakhryrozi

Mahasiswa semester 6

S1 Jurusan Manajemen Unpad

fahry.rozi@yahoo.com