Kondisi saat ini

Saat ini lingkungan bisnis di dunia mengalami goncangan dari segi penerapan etika.Terbukti dengan terjadinya krisis ekonomi global akibat bubble economics yang terjadi di Amerika Serikat pada akhir 2008 silam.Krisis ini mengakibatkan impact yang tidak sederhana terhadap lanskap bisnis di negara-negara di dunia. Kerusakan lingkungan yang terjadi secara global juga merupakan salah satu akibat dari aktivitas bisnis yang tidak memperhatikan etika.Negara Amerika Serikat hingga saat ini yang notabene merupakan Negara pemimpin ekonomi dunia tidak menandatangani perjanjian Kyoto mengenai pengendalian gas buangan kendaraan bermotor.Kemajuan industry di dunia saat ini tidak diimbangi dengan kesadaran akan penjagaan kelestarian lingkungan telah memicu global warming.Di Amerika Serikat juga diyakini saat ini ada sekitar 60 % penduduknya yang mengalami obesitas.Ini juga merupakan contoh lain dari bisnis makanan junk food yang tidak memperhatikan etika.Disinyalir tiap ekor sapi di Eropa disubsidi sebesar 2 dollar per harinya sementara masyarakat-masyarakat di negara-nagara berkembang rata-rata hidup dengan biaya dibawah 2 dollar per harinya.Telah terjadi ketimpangan atau ketidakadilan ekonomis secara global sebagai akibat dari iklim bisnis yang dibentuk.Ekses lainnya dari kondisi tidak fair ini adalah krisis pangan yang melanda dunia dewasa ini.Kelaparan yang terjadi di Negara-negara Afrika menjadi sebuah ironi ketika pada saat yang bersamaan terjadi permasalahan obesitas di masyarakat Amerika Serikat.

Hermawan Kertajaya seorang pakar marketing menyebut kondisi ini sebagai sebuah chaos atau kekacauan.Kondisi ini mendorong masyarakat untuk mencari iklim bisnis yang lebih fair dan dilandasi oleh nilai-nilai etika dan spiritual.Tidak sekedar bisnis dengan berlandaskan searching for excellence tetapi juga berlandaskan searching for meaning.Kondisi chaos itu juga mulai terjadi di Indonesia.Negara kita yang selama ini kita anggap sebagai Negara dengan masyarakat yang religious,beretika dan suka bergotong royong ternyata juga mengalami fenomena meninggalkan etika dan nilai-nilai dalam berbisnis.

Bisnis 3.0

Sebuah konsep bisnis alternative pun ditawarkan. Di dalam buku ”Marketing 3.0: Values-Driven Marketing” Philip Kotler dan saya mengatakan, perusahaan seharusnya tidak hanya memasarkan produk dengan manfaat fungsional ataupun manfaat emosional, melainkan harus pula menonjolkan manfaat spiritual.

Marketing 3.0 atau Bisnis 3.0 menawarkan konsep bisnis yang lebih mengedepankan aspek panjagaan nilai-nilai etika dan moral dengan berlandaskan pada spiritualitas.Pelaku bisnis yang menggunakan konsep ini akan mendapat ekses yang lebih baik daripada konsep bisnis yang sekedar mengedepankan aspek kecerdasan emosional dan rasional semata seperti kreativitas pemasaran,membangun brand,strategi menjaga loyalitas konsumen dan sebagainya.Hermawan Kertajaya mengatakan “Pendekatan pemasaran berbasis nilai ini diyakini akan memperoleh hasil yang berbeda. Karena perusahaan atau pemilik merek tidak sekadar memberikan kepuasan atau mengincar profitabilitas, melainkan memiliki compassion, dan keberlanjutan. Model bisnis yang menyeimbangkan pencetakan profit dan tanggung jawab sosial seperti itu sungguh didambakan oleh banyak pemain bisnis”.

Berikut adalah perbedaan Bisnis 1.0,2.0 dan 3.0 mengutip pnedapat Hermawan Kertajaya,

Marketing 1.0

Product-centric Marketing

Marketing 2.0

Customer-oriented Marketing

Marketing 3.0

Values-driven Marketing

Objektif Perusahaan Menjual produk Memuaskan dan membuat konsumen loyal Membuat dunia yang lebih baik
Pemicu Arus Pergerakan Industrial Revolution Teknologi informasi dan komunikasi Teknologi New Wave
Bagaimana Perusahaan Melihat Konsumen Mass buyers dengan kebutuhan fisik Konsumen yang memiliki rasional dan emosional Konsumen yang secara holistic memiliki mind, heart, dan spirit.
Kunci Konsep Pemasaran Pengembangan produk Diferensiasi Nilai-nilai (values)
Panduan Pemasaran Perusahaan Spesifikasi produk Positioning perusahaan dan produk Visi, Misi, dan Values dari Perusahaan
Nilai yang Dijual Perusahaan Fungsional Fungsional dan emosional Fungsional, emosional, dan spiritual, Emotional, and Spiritual
Interaksi Dengan Konsumen Transaksional yang bersifat top-down (One-to-Many ) Hubungan intimasi yang bersifat one-to-one Kolaborasi antar jejaring konsumen (many-to-many)

Marketing 1.0 mengandalkan rational intelligent: Produk bagus, harga terjangkau. Konsumen memilih produk berdasarkan tinggi-rendahnya harga yang ditawarkan produsen. Pada level ini konsumen sangat mudah berpindah.

Marketing 2.0 berbasiskan emotional intelligent: Sentuhlah hati customer. Meski suatu produk lebih mahal dibanding yang lain, tapi tetap dipilih konsumen, sebab ia sudah memiliki ikatan emosional dengan produknya.

Marketing 3.0 berdasarkan spiritual intelligent: Lakukan semua dengan Nilai-Nilai Universal seperti kasih dan ketulusan maka profit akan datang. Pada tahap ini, merek telah menjadi “reason for being.” Karena merek itu maka si konsumen diakui keberadaannya.

Values-driven marketing adalah model untuk Marketing 3.0, yang melekatkan nilai-nilai pada misi dan visi perusahaan. Gagasan ini akan memperbaiki persepsi publik terhadap marketing dan membimbing perusahaan dan pemasar untuk menginkorporasikan visi yang lebih manusiawi dalam memilih tujuan mereka.

Dampaknya bagi masyarakat

Menurut analisis saya cara berbisnis masyarakat menunjukkan bagaimana cara berpikir dan nilai-nilai seperti apa yang melandasi hidup  masyarakat itu.Masyarakat yang berideologikan kapitalisme akan berbisnis dengan cara itu dampaknya pun akan terasa bagi masyarakat itu.Masyarakat yang lebih bermoral berbisnis dengan cara yang lebih bermoral pula.Jadi pola bisnis masyarakat adalah produk dari culture  masyarakat itu.

Pola bisnis yang dilandasi tindakan tidak jujur,aktivitas yang tidak bertanggung jawab seperti kerusakan lingkungan dan menodai nilai-nilai etika di masyarakat,sikap berorientasi pada profit semata dengan meninggalkan etika bisnis akan memicu iklim bisnis yang saling sikut,tidak saling percaya (krisis kepercayaan),serta sikap negative lainnya.Hal ini akan berakibat terbentuknya tatanan masyarakat yang seperti itu.

Maka menurut saya karakter ataupun culture masyarakat bisa dibentuk dengan proses sebaliknya : Pola ataupun sistem bisnis yang dibangun akan membangun culture masyarakat itu.Logikanya sederhana,apabila ada seseorang yang berbuat baik kepada kita,bertindak jujur,memberi hadiah,berlaku adil,memperhatikan kita maka kita pun akan tergerak untuk melakukan hal yang serupa.Apabila ini dilakukan oleh subjek yang lebih banyak,maka efeknya pun akan lebih besar.Apabila perusahaan-perusahaan ataupun pelaku bisnis melakukan tindakan-tindakan dalam konsep Bisnis 3.0 diatas,maka akan terjadi efek sebaliknya,masyarakat akan merespons nya dan akan terbangun simpati di masyarakat terhadap para pelaku usaha selain tetunya profit yang akan terdongkrak.

Lanskap bisnis 3.0 ini akan membangun efek terbentuknya tatanan masyarakat yang lebih baik yang dilandasi nilai-nilai spiritualitas dan moral serta terbangunnya kepercayaan (trust) yang amat penting dalam bisnis.