Sebagai warga Bandung asli tentunya saya sangat kecewa dengan kondisi kota saya tercinta pada saat ini.Saya sangat sedih melihat betapa semrawut,tidak teratur dan berantakannya tata planologi kota ini. Kawasan perbelanjaan selalu dihiasi kemacetan.Tidak pernah ada penataan untuk kawasan yang notabene menjadi objek pemasok pendapatan daerah itu.Kalau berjalan-jalan di daerah perbukitan seperti Ciumbeuleuit dan Dago Pakar kondisinya nampak sangat mengenaskan.Ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi sumber pemasok kebutuhan oksigen dan menjadi tempat water saving malah digunduli dan dibangun secara tidak bertanggung jawab.Tidak heran air hujan yang turun di bumi Bandung tidak menemukan tempat “parkir”  sehingga mencari tempat “parkir” lain di daerah yang lebih landai.Celakanya tempat parkir baru ini adalah kawasan hunian,bisnis dan aktivitas manusia.Terjadilah banjir yang terjadi berulang-ulang di kawasan Bandung Selatan.Sangat memalukan.

Semasa saya SD,pagi-pagi di Bandung adalah pagi yang senantiasa memberikan kesegaran luar biasa yang tidak saya temukan di kota-kota lain .Tempat tinggal saya yang berada di kawasan gegerkalong adalah area yang sangat dingin dan menyegarkan.Sekarang tidak lagi.Bahkan naik ke atas ke daerah Lembang pun,suhunya sudah jauh lebih menghangat daripada beberapa tahun yang lalu.

Yang tidak kalah mengecewakan adalah kalau dahulu kota Bandung merupakan kota yang dipenuhi genangan-genangan air dalam bentuk kolam-kolam yang oleh pemerintahan Belanda ditata begitu apik menjadi taman-taman yang sangat indah,saat ini kolam-kolam itu pun tetap ada,namun dalam bentuk yang lain.Kolam-kolam itu muncul saat hujan tiba di jalan-jalan di Kota Bandung.Lubang-lubang besar kini menghiasi jalan-jalan di Kota Bandung tercinta ini menjadi kolam-kolam yang membuat pemakai jalan seakan tengah melakukan olahraga off road ketika melintasi jalan.

Membaca sebuah artikel dari salah seorang blogger sungguh sangat menarik.Di artikel tersebut penulis mengilustrasikan bahwa kini istilah Bandung Lautan Api telah berubah.Di 30-40 titik di Kota Bandung selalu dilanda kemacetan luar biasa. Menurut Pakar transportasi dari jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung Prof Dr Ir Kusbiantoro, Bandung  tergolong kota paling macet jika dibandingkan dengan kota-kota besar lain di Indonesia.Jadi kini istilahnya menjadi Bandung Lautan Macet.

Selanjutnya masalah sanitasi yang buruk.Bahkan belakangan ada peristiwa mengenaskan ada seorang warga yang tewas tertimbun sampah yang dibuang oleh manusia itu sendiri.Jadi kini ada istilah yang sungguh sangat tidak enak didengar, Bandung Lautan Sampah.

Masih ada berpuluh-puluh masalah lain menjangkiti kota kembang ini.Diantaranya permasalahan pedagang kaki lima yang seakan dibereskan hanya melalui aksi-aksi jangka pendek saja dan sangat parsial serta masalah bangunan-bangunan tua yang tidak terawat dan tidak difungsikan,diterlantar begitu saja.Polusi udara juga menjadi masalah urgen untuk segera dipecahkan.Jalan-jalan di Kota Bandung kini tengah menjadi area yang sungguh sangat meyesakkan paru-paru.Itu baru secuil dari segudang permasalahan yang menggelayuti Bandung.Jadi kini muncul opini baru, Bandung Lautan masalah.

Menengok “Bandung Tempo Doeloe” kita dibawa kepada sebuah gambaran kota nan menawan yang disimpulkan dalam satu istilah “Bandung,Parijs Van Java”.Bandung yang pada masa pemerintahan Belanda digagas menjadi “Garden City” dahulu berkembang menjadi sebuah kawasan menawan dengan adanya taman-taman,kolam-kolam,serta tata kota bergaya Eropa yang begitu nyaman.Jejak-jejak keindahannya bisa kita lihat dari bangunan-bangunan peninggalan seperti Gedung Sate,Savoy Homan,Gedung SMA 3 dan 5,Hotel Preanger,Gedung Asia Afrika dan sebagainya.Disekelilingnya berdiri gunung-gunung nan berwibawa,Tangkuban Perahu,Burangrang,Malalayang dan lainnya.Hutan-hutan dan perbukitan indah pun menghiasi.Gambarannya bisa dilihat dalam koleksi foto-foto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984), Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986), Ramadhan di Priangan (1996), dll.

Saat ini sungguh jauh berbeda kondisinya.Amat disesalkan kita sebagai warga pribumi lebih tidak becus dalam mengelola tanah kita daripada kaum kolonialis.

Data menunjukkan antara pertumbuhan perekonomian kota dan kesejahteraan masyarakat tidak berbanding lurus.Hal ini mengindikasikan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung tidak dinikmati signifikan oleh masyarakat Kota Bandung,namun oleh orang lain.Kini Bandung telah menjadi tujuan pelarian orang-orang metropolitan.Mall-mall dibangun dan konon katanya ijin membangun ruang terbuka hijau lebih sulit ketimbang ijin membuat mall.Padahal kini ada 14 mall yang sudah bangkrut.

Solusinya adalah grand design perencanaan kota baru yang integral dan berorientasi jangka panjang.Apa yang terjadi pada kota Bandung saat ini adalah akumulasi dari akibat produk-produk kebijakan yang berorientasi pemecahan masalah secara jangka pendek.Selain itu parsial atau hanya melihat sedikit aspek saja dan tambal sulam.Gagasan yang dibuat pemerintah cenderung sporadis dan tidak memperhatikan aspek lain seperti analsis dampak lingkungan,city’s software dan sustainability development.Perlu dibuat kebijakan-kebijakan yang bersumber dari pemerintahan yang bersih  yang berasal dari budaya good governance.Sebab produk yang buruk berawal dari aktor-aktor yang buruk.Jangan sampai kebijakan-kebijakan yang dilahirkan dipengaruhi oleh kepentingan kalangan tertentu yang memilki motif sekedar mengeruk keuntunga.Jangan sampai perselingkuhan penguasa dan pengusaha seperti yang terjadi di kota ini saat ini menjadi landasan pengembangan kebijakan.Pakar planologi,lingkungan ekonomi,dari kalangan akademisi,professional maupun LSM harus bekerjasama dengan pemerintah sekaligus menjadi controller aplikasi kebijakan.Bandung juga harus membangun visi jangka panjang contohnya 25-30 tahun kedepan.Melbourne telah membuat visi hingga 2030 untuk menjadi “the More Compact City”.

Terakhir masyarakat Bandung harus terus kritis dan memiliki willingness bergerak kearah perubahan.Jangan sampai karakter khas masyarakat Bandung yang statis dan enggan berpindah kondisi ini membiarkan berbagai masalah ini terdiamkan.Kalau tidak Bandung akan semakin menyedihkan.Sebagai bukti kecintaan kita pada kota cantik ini, ayo bergerak selamatkan Bandung!