Perjalanan sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari peranan para pemuda.Jejak rekam peran itu bisa dilihat pada titik-titik menentukan dalam perjalanan sejarah bangsa. Dimulai dari kebangkitan nasional yang menandakan mulai tumbuhnya rasa nasionalisme, sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal persatuan Indonesia, kemerdekaan republik Indonesia, tumbangnya orde lama, lahir dan tumbangnya orde baru sampai lahinya orde reformasi.

Tidak kurang Ben Anderson, pengamat politik Indonesia, dalam Java In A Time Of Revolution, Occupation And Resistance (1944-1946) meyakini bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan kaum muda.Beliau mengatakan, “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda ini.”

Jika ditanyakan mengapa  peran-peran penting itu selalu dimainkan oleh pemuda dan sebenarnya apa rahasianya?Jawabannya adalah karena pemuda memiliki potensi-potensi unik secara fisik dan psikologis yang membedakannya dengan  orang tua dan anak-anak.Potensi unik yang ada dalam diri pemuda inilah yang merupakan jawaban dari mana energi yang menggerakan pemuda dalam setiap peran-perannya itu berasal.

Secara umum orang-orang yang berusia pada kisaran usia yang umum diterima masyarakat sebagai usia muda,memiliki beberapa sifat yang unik.Pemuda memiliki vitalitas fisik yang lebih prima daripada orang tua dan anak-anak sehingga mereka sanggup mengerjakan berbagai kerja-kerja dengan beban yang berat.Hal ini menunjukan potensi daya produktifitas yang tinggi dimiliki oleh para pemuda.Pemuda juga memiliki kekuatan akal yang melebihi orang tua yang mulai diserang kepikunan dan kelemahan lainnya serta anak-anak yang akalnya belum matang.

Masa muda juga merupakan masa suburnya idealisme.Secara psikologis masa muda adalah masa pencarian jati diri sehingga pencarian jati diri ini mendorong penghayatan yang mendalam terhadap idealisme dan semangat aktualisasi yang besar.

Potensi lainnya adalah kejernihan berpikir atau rasa moral yang kuat yang belum tercemar oleh kepentingan yang pragmatis.

Berbagai potensi itu yang jika dipertemukan dengan iklim eksternal yang menunjang akan meledakkan hasil yang tak terkira pengaruhnya contohnya adalah apa yang para pemuda lakukan dalam sejarah bangsa Indonesia.

Dalam sejarah bangsa Indonesia sendiri tertoreh dengan tinta emas peran-peran pemuda dalam menentukan alur cerita bangsa Indonesia ini. Peran nyata para pemuda digambarkan  dalam 5 gelombang nasionalisme di Indonesia, yang berulang hampir 20 tahun sekali, dapat kita lihat dari perjalanan sejarah nasional; sejak kebangkitan nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, kemerdekaan 1945, bangkitnya orde baru 1966, dan bangkitnya orde reformasi 1998.Sebuah pertanyaan terlahir, kapankah kebangkitan yang keenam dimulai?

Pada masa perjuangan kemerdekaan antara tahun 1905 hingga 1927,gerak langkah perjuangan ini dimotori oleh para pemuda dengan membentuk organisasi-organisasi pergerakan.Jika memperhatikan usia  para perintis organisasi-organisasi pergerakan ini relatif muda yaitu berkisar antara 20-30 tahun. Kartini sewaktu menyuarakan perlawanan terhadap kolonialisme dan feodalisme melalui surat-surat yang ditulisnya yang dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht yang artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”,masih  berusia 20 tahunan.Bahkan beliau meninggal pada usia 25 tahun.Begitu juga Sutomo dan Gunawan Mangunkusumo beserta kawan-kawannya ketika mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 mereka semua berusia 20-25 tahunan. Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto ketika memimpin organisasi tersebut berusia 25 tahun. Soebadio Sastrosatomo, Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni, serta dokter Moewardi ketika memaksa Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia berusia 25-30 tahunan, dan Sultan Syahrir sendiri yang ikut menggerakan pemuda pada waktu itu berusia 36 tahun.

Fase ini merupakan fase dimana rasa nasionalisme mulai terakumulasi dan diperjuangkan melalui sebuah bentuk gerakan yang baru.Gerakan ini diusung oleh generasi Indonesia yang baru.Generasi terpelajar.Fase dimana kekuatan intelektualitas menjadi senjata andalan dalam menghadang pemerintah kolonial.Namun dalam fase ini selanjutnya bertumbuh subur organisasi-organisasi yang lebih mengedepankan rasa kedaerahan.Maka pada 1928 para pemuda berkumpul untuk membicarakan dan menyusun kembali kekuatan persatuan.Maka saat ini perjuangan kemerdekaan memasuki fase yang baru.

Pada masa menjelang peristiwa Sumpah Pemuda, tersebar pamflet yang menyatakan bahwa masa depan tanah jajahan akan bernasib sebagai wilayah-wilayah yang dikotak-kotakan oleh sekat-sekat kedaerahan disebabkan tersebarnya pulau-pulau serta wilayah-wilayah di Indonesia yang masing-masing memiliki adat dan istiadat yang berbeda-beda.Hal ini ditunjukkan pula dengan menjamurnya organisasi-organisasi yang bersifat kedaerahan sebagaimana pernyataan yang dilontarkan oleh Hendrikus Colijn -mantan Menteri Urusan Daerah Jajahan.

Maka pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda berkumpul sebagai reaksi atas isu tersebut dan mengikrarkan sebuah ikrar yang legendaris.Ikrar itu berisikan tekad untuk mempersatukan bangsa,bahasa dan tanah air Indonesia dalam semangat nasionalisme.Dalam peristiwa sumpah pemuda ini pula disenandungkan untuk pertama kali lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman

Kurang dari 20 tahun yaitu hanya 17 tahun kemudian setelah ikrar Sumpah Pemuda dibacakan, para pemuda kembali beraksi.Para pemuda menyandera Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok dan disana diproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.Peristiwa ini juga sebagai langkah cepat sebagai reaksi dari konstelasi perpolitikan global dimana Jepang sebagai penjajah telah mengalami kekalahan telak dari Sekutu.Sebelumnya cita-cita kemerdekaan ini telah didiskusikan oleh Soekarno, Hatta, Soepomo, Syahrir, dan lainnya sejak mereka masih berstatus mahasiswa.

Dalam perkembangannya Soekarno mangalami perubahan pola pikir.Sepak terjangnya mulai menimbulkan sikap kurang simpatik dari masyarakat dan berbagai kalangan.Karakter otoriter semakin nampak dalam dirinya.Kolega-koleganya perlahan meninggalkannya hingga puncaknya saat Hatta Sang Bapak Proklamator mengundurkan diri dari jabatannya.Ditambah lagi kondisi bangsa yang semakin jauh dari kesejahteraan.

Tepat 20 tahun setelah kemerdekaan terjadi huru-hara pemberontakan G30S/PKI beserta segala eksesnya.Pada periode 1960-an ini para pemuda yang diwakili golongan mahasiswa bereaksi menjawab tantangan realitas.Turun ke jalan adalah kegiatan sehari-hari mereka.Mereka adalah para pemuda yang lahir pasca kemerdekaan.Generasi baru yang lahir dari rahim kebebasan.Hal ini membawa mereka menjadi anak-anak muda yang bebas dan jujur dalam memperjuangkan perasaan moral mereka dan kritis dalam memperjuangkan keadilan.Tercatat pada fase ini seorang tokoh muda yang unik dan sangat idealis Soe Hok Gie.Selain itu dikenal pula Ahmad Wahib.Keduanya intelektual muda nan cerdas yang sepak terjangnya begitu membuat penguasa gerah.Keduanya juga mati muda dan memiliki kisah romantisme perjuangannya masing-masing.

Tanpa peran mahasiswa Soeharto tidak dapat dengan mudah mengambil alih kemudi bangsa.Namun pada kelanjutannya otoriterisme dan sikap represif ini berulang.Para 1970 pada masa pemerintahan Soeharto mahasiswa di kerangkeng dan dibatasi daya kritisnya dengan adanya NKK/BKK selain itu kekuatan ABRI semakin menancapkan taring-taringnya di tengah-tengah masyarakat pasca Dwifungsi ABRI.

Kebebasan pers dikekang, aspirasi dan daya kritis mahasiswa tidak diperkenankan bertumbuh seiring penerapan NKK/BKK yang membawa mahasiswa untuk hanya berdiam di ruang kelas.Perjalanan kehidupan bangsa diwarnai oleh laras-laras senapan ABRI.Masa pemerintahan pun berlanjut hingga 32 tahun.Di penghunjungnya KKN menggurita seiring dengan krisis moneter Asia Tenggara yang datang menghantam.Kini para pemuda datang lagi mengambil inisiatif untuk melakukan perubahan atas NKRI yang mulai ‘keropos’.

Terlahirlah kembali generasi baru,generasi 1998.Generasi yang menjadi titik tolak lahirnya orde reformasi.Taufik Ismail menggambarkan kondisi pada masa itu melalui syairnya “Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu.
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi
di Trisakti bahkan di seluruh negeri,”

Empat mahasiswa Trisakti  gugur diterjang peluru kediktatoran rezim Orde Baru; ElangMulyana, Hery Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidin Royan.

Selanjutnya pemerintahan paska tumbangnya Orde Baru belum menunjukkan kinerja yang memuaskan.Bahkan sangat jauh dari memuaskan.Kini bangsa Indonesia menapaki 2010.Telah berlalu sekitar 12 tahun dari semenjak tumbangnya Orde Baru.

Jika merujuk pada hitung-hitungan sejarah yaitu pengulangan kebangkitan kaum muda pada setiap 20 tahun sekali,maka pada dekade inilah akan terjadi kebangkitn pemuda yang keenam.Jadi para pemuda yang kini tengah duduk di bangku kuliahlah yang nantinya akan mengambil peran bagi kebangkitan itu.Kebangkitan atau peran revolusi yang diharapkan kini bukanlah seperti aksi-aksi revolusi yang dilakukan saat-saat yang lalu.Namun peran yang lebih dituntut pada saat ini adalah peran intelektual dan peran pembangunan.Dalam bangunan demokrasi yang mulai tertata ini peran yang diharapkan adalah peran cerdas yang lebih menghayati demokrasi secara arif dan positif.Peran kontribusi dalam segenap aspek pembangunan politik,ekonomi,sosial,iptek dan budaya.Sebuah revolusi yang dilakukan dalam suasana yang pembelajaran berdemokrasi yag sudah mulai kondusif.Bukan sebuah revolusi penggulingan namun revolusi katalisator kemajuan.Sangat beralasan mengharap Indonesia menjadi negara besar dan maju dengan pesat di kemudian hari jika kita melihat kondisi berdemokrasi kita saat ini yang tengah ‘hangat-hangatnya’ untuk belajar.Dan ternyata kabar baiknya revolusi kemajuan itu akan terjadi pada dekade ini melalui kebangkitan pemuda yang keenam.

Muhammad Fakhryrozi

Mahasiswa S1 Jurusan Manajemen Unpad