Image

Menurut Dr. Stephen Sampson, seorang ahli psikologi, pengaruh seseorang tidaklah ditentukan oleh titel formal yang ia miliki. Setidaknya ada enam aspek yang membentuk pengaruh dalam diri seseorang. Keenam aspek tersebut adalah physicality (kemenarikan fisik), intellectuality (kemampuan intelektual), emotionality (kemampuan mengelola emosi), sociability (keahlian sosial), personability (kesadaran diri) dan moral-ability (rasa moral). Konsep ini seperti dikatakan Dr. Stephen Sampson dalam bukunya “Leaders Without Title”, merevolusi pandangan umum terhadap kepemimpinan. Dalam bukunya, Dr. Stephen menggunakan pendekatan psikologi dalam mengungkap rahasia pengaruh dari seorang pemimpin tanpa titel. Dalam pendekatan manajemen, sering diutarakan bahwa rahasia pengaruh seorang pemimpin adalah visi, inovasi, keberanian, kemampuan mengambil keputusan dan seterusnya dimana Dr. Stephen melihat diluar perspektif tersebut.

Yang cukup menarik dari konsep Dr. Stephen adalah ia memasukan aspek pysicality (kemenarikan fisik) sebagai aspek yang membentuk pengaruh. Ia mengatakan dalam bukunya bahwa tidak ada satu orang berpangaruhpn di film-film yang tidak menarik secara fisik. Secara alami orang menyukai bintang film, artis, atlet yang menarik secara fisik. Ia juga mengatakan bahwa kemenarikan fisik yang dimaksud tidak sekedar wajah yang menawan dan bentuk tubuh yang ideal namun juga kesehatan yang prima hingga kebersihan.

Yang ingin saya bahas dalam artikel ini adalah aspek kedua dari enam faktor pembentuk seorang pemimpin tanpa titel yakni intellectuality. Dr. Stephen berargumen bahwa dalam sejarah, orang-orang yang superior intelektualitasnya memiliki pengaruh besar bagi manusia, contohnya Isaac Newton dan Albert Einstein. Orang cenderung mengikuti argumentasi orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual yang baik.

Lantas bagaimana seseorang dikatakan memiliki intelektualitas yang baik itu? Punya gelar akademis? Punya IPK tinggi? Dr. Stephen menyatakan hal itu bukanlah indikatornya. Setidaknya ada empat hal yang membentuk intelektualitas seseorang yakni: 1. Kemampuan seseorang untuk berfikir factual, 2. Kemampuan seseorang untuk berfikir logical, 3. Kemampuan seseorang untuk berpikir conceptual dan 4. Kemampuan seseorang untuk berpikir operational.

Seseorang yang intelektual adalah mereka yang selalu berpegang teguh pada fakta, bukan pada gosip dan sekedar persepsi umum. Selanjutnya ia mampu berpiki r secara logis untuk mengaitkan hubungan diantara satu fakta dan fakta lainnya. Kemudian ia mampu berpikir konseptual dimana ia mencoba merangkai hubungan-hubungan dari fakta-fakta yang ada (conencting the dots) menjadi sebuah konsep. Tidak berhenti menyusun konsep, ia juga mampu berpikir operational artinya mampu merancang rencana implementasi dari konsep yang ia buat di lapangan.

Amat disayangkan saat ini ada sebagian orang-orang yang mengaku intelektual namun tidak berpikir fact-based. Ia menyandarkan penilaiannya pada subjektifitas yang telah dipengaruhi prasangka yang dibentuk dari berita-berita yang tidak valid yang ia konsumsi. Orang yang berargumen namun menyandarkan argumennya pada gosip dan kasak-kusuk yang belum terbukti benar akan menurunkan kadar intelektualitas dirinya sendiri. Ia akan cenderung menampakan sikap benci atau suka secara tidak objektif.

Terlebih di era ini di Indonesia, dimana media massa menjadi bebas namun tidak independen. Bebas dalam memberitakan namun pemberitaan yang dimuat namun tidak independen dari kepentingan satu pihak. Sebagian media massa disetir kepentingan pemilik yang punya niat politis atau oleh pihak-pihak tertentu yang menyodorkan imbalan materil.  Hal ini berpotensi mengikis kemampuan intelektual kita dan masyarakat. Kecendrungan sebagian masyarakat yang terlihat saat ini adalah ikut-ikutan terhadap opini yang belum tentu dilandaskan pada fakta yang benar. Maka menjaga objektifitas dengan melakukan cross check atau menggali fakta yang sesungguhnya melalui berbagai media alternatif seperti social media akan membantu kita menjaga kemampuan kita berpikir factual.

 

Oleh : Muhammad Fakhryrozi