oleh: Muhammad Fakhryrozi

Didalam game theory kita menemukan adanya situasi ekstrim yang mengilustrasikan situasi kompetisi. Faktanya situasi zero-sum dalam game theory kita temukan sehari-hari. Dalam bisnis, jika perusahaan tidak bekerja sungguh-sungguh hari ini, maka hari ini juga kompetitor akan mengambil ‘jatah’ perusahaan. Sesaat saja perusahaan lengah mengantisipasi perubahan pasar, maka saat itu dengan segera kompetitor menggerogoti market kita dengan adaptasi yang mereka lakukan. Situasi seperti itu mendorong perilaku untuk “saling serang”, saling berebut tanpa ampun. Tidak menyerang, tidak agresif sama dengan hilang kesempatan.

Sesungguhnya kompetisi kendati menghasilkan situasi menang-kalah, bukanlah sesuatu yang buruk dan harus ditakuti. Kalau kita buat spektrum dari situasi less competitive di kiri ke highly competitive di kanan maka kita akan saksikan perusahaan-perusahaan yang pelayanannya rendah, produknya tidak punya nilai tambah, pegawainya lesu dan malas ada di kiri dan perusahaan yang produknya inovatif, layanannya bagus, promosinya kreatif, nilai tambahnya tinggi itu ada di kanan.

Saya pernah dengar di salah satu kuliah umum di ITB, Pak Abu Rizal Bakrie melontarkan wacana penyediaan listrik dikompetisikan, dimana pihak swasta seperti BUMI Resources (waktu itu belum santer isu perusahaan tersebut dililit hutang), diperkenankan jualan listrik, alasannya karena tidak ada kompetitor layanan jadi seadanya, masyarakat banyak kecewa. Pemerintah masih belum berani bikin PLN berkompetisi, saya yakin akan jadi kontroversi kalo sampai demikian terjadi. Hemat saya, barang publik seperti listrik memang sangat vital keberadaannya dan kita tidak menghendaki suatu saat karena listrik diliberalisasi, lalu perusahaan-perusahaan penyedia listrik hanya mau menyediakan listrik untuk orang kaya saja karena mau beli harga mahal. Listrik adalah barang publik yang harus bisa disediakan untuk semua. Memang pengelolaan energi di Indonesia termasuk listrik masih carut marut saya dengar. Mekanisme pengawasannya saat ini lewat pemerintah dan DPR, merekalah yang harusnya menekan PLN untuk lebih keras bekerja memperbaiki pelayanan.

Kita lihat Pertamina karena kompetisi terdorong untuk perbaiki layanannya. Oke lah, kalau bicara dimensi service quality, saya lihat reliability-nya (kehandalan, konsistensi) masih kurang, tidak konsisten senyumnya dari satu pom bensin ke pom bensin lain. Apa perlu diperlonggar lagi bagi perusahaan penyalur BBM asing untuk bermain di Indonesia supaya Pertamina makin membaik?

Persaingan membuat kontestan-kontestannya terus berkembang kearah kesempurnaan. Steven Covey mengajak kita untuk mencari sparing partner. Menganggap situasi di sekeliling kita adalah situasi kompetisi. Hanya mereka yang kompetitif yang akan sukses. Dalam the 5th Discipline, Steven Covey menyarankan bagi organisasi yang ingin sukses mengeksekusi strategi, maka buatlah Score board. Papan skor yang membuat progress setiap anggota tim diketahui secara transparan dan di sisi lain muncul suasana kompetitif yang memicu kinerja tim.

 Saya pernah menulis di blog ini, ide untuk meningkatkan kinerja instansi publik dengan membuat suasana kompetisi antar instansi yang se-level (walaupun beda ranah)yang diinisiasi oleh instansi diatasnya yang menaungi. Misalnya Pemprov meginisiasii audit kinerja instansi dalam hal transparansi misalnya, audit ini dilakukan oleh lembaga independen. Kemudian mereka yang memuaskan diapresiasi. Sehingga diharapkan lembaga lain “panas” dan terpacu berbenah.

Membuka keran asing masuk ke Indonesia memang hal positif untuk memicu pengusaha dalam negeri bekerja keras, supaya mereka tidak malas. Tapi jangan sampai pemerintah tidak adil, mereka buka pintu lebar-lebar asing masuk, tapi di sisi lain mereka tidak berperan aktif bangun competitiveness usaha dalam negeri, Mereka tidak bangun infrastruktur, mereka tidak bina usaha kecil, mereka tidak latih usaha-usaha kecil, mereka tidak benahi sektor pendidikan yang jadi tulang punggung keunggulan kompetitif sebuah bangsa, mereka tidak buat kebijakan-kebijakan publik bermutu. Kata Michael Porter peran pemerintah itu meng-empower rakyatnya. Pendapat ini keluar dari perdebatan dua kubu, yang satu mendukung liberalisasi secara ekstrim dan sangat manis terhadap asing, yang satu phobia asing, dan ingin terus proteksi dan proteksi. Meng-empower berarti memberdayakan rakyatnya, sehingga rakyatnya inovatif, unggul, kompetitif, kuat, siap bersaing, tangguh. Tidak tergencet dan megap-megap tidak bisa melawan liberalisasi, tapi tidak juga santai-santai dan seadanya.