Tags

, , , , , , ,

Gambar

Oleh Muhammad Fakhryrozi

Indonesia dikategorikan sebagai negara emerging market yang atraktif dan potensial sebab ekonominya tumbuh konstan dengan tingkat sedang beberapa tahun ke belakang. Namun amat disayangkan pertumbuhan tersebut mayoritas ditopang oleh konsumsi yakni 60% dari total GDP. Hal ini akan memicu inflasi dimana inflasi akan berdampak buruk bagi kelas bawah terlebih ketika pemerintah gagal memenuhi target inflasi melalui berbagai instrumen moneter maupun fiskal seperti yang terjadi saat ini. ASH Centre For Democracy, Harvard melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia ini merupakan pertumbuhan yang tidak menciptakan lapangan kerja, tidak meningkatkan daya saing dan meningkatkan kesenjangan.

Kurang berkualitasnya pertumbuhan ekonomi Indonesia ini tercermin dari terjadinya deindustrialisasi yang menurunkan daya saing dimana industri padat karya seperti pertanian dan manufaktur pertumbuhannya terus melambat sementara industri jasa dan keuangan yang tidak bersifat padat karya tumbuh signifikan. Hal ini mengakibatkan kemakmuran hanya berputar di kalangan kelas menengah dan kelas atas saja dimana kelas menengah dan atas ini menjadi konsumen aktif bagi berbagai industri yang ditopang perusahaan-perusahaan asing. Selain itu indikator lain dari lemahnya daya saing bangsa adalah ekspor nasional yang ditopang oleh komoditas seperti batu bara dimana komoditas-komoditas ini tidak berperan besar dalam penciptaan lapangan kerja dan bersifat tidak sustainable atau akan habis di kemudian hari. Masalah lain yang berkaitan dengan daya saing ini adalah fokus pembangunan yang terlalu berpusat di Jawa dimana daerah non-Jawa menjadi bergitu tertinggal. Saat ini 60% PDB dihasilkan di Jawa, 20% di Sumatera dan sisanya di wilayah-wilayah lain. Dari segi lapangan kerja, pada tahun 2013 terdapat 7.39  juta penganggur. Permasalahan daya saing ini amat krusial bukan hanya karena perlunya peningkatan lapangan kerja,namun di tengah tuntutat konektifitas hubungan bisnis internasional antara Indonesia dan dunia. Sebagai contoh pada 2015 Indonesia akan memulai kiprahnya di Masyarakat Ekonomi ASEAN, dimana pebisnis-pebisnis Indonesia akan bersaing secara ketat dengan pelaku bisnis ASEAN.

Untuk itu membangun jiwa kemandirian dan kewirausahaan masyarakat menjadi sangat strategis peranannya. Jiwa kemandirian artinya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dengan segala daya yang dimiliki tanpa bergantung pada orang lain. Sementara jiwa entrepreneurship atau kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan nilai tambah yang berguna bagi masyarakat dan memberikan keuntungan finansial bagi diri sendiri. Jiwa kemandirian berkaitan dengan semangat seseorang untuk mengaktualisasikan diri dan menjadi independen sementara entrepreneurship lebih kepada kemampuan untuk menciptakan suatu output. Jiwa kemandirian adalah pondasi bagi jiwa kewirausahaan. Dengan banyaknya masyarakat khususnya generasi muda yang mandiri dan berjiwa kewirausahaan maka akan ada lebih banyak produk dan jasa buatan dalam negeri yang bisa menciptakan lapangan kerja sehingga pada gilirannya kemakmuran akan lebih terdistribusi dan daya saing bangsa akan meningkat. Terlebih jika generasi muda daerah mampu berwirausaha dengan baik maka pembangunan akan lebih merata, dorongan untuk bermigrasi ke Jawa berkurang dan potensi daerah akan terberdayakan.

Orientasi pengembangan kewirausahaan Indonesia haruslah ke arah daya saing global. Mengapa? Selain karena saat ini neraca perdagangan Indonesia defisit dimana Indonesia dibanjiri produk impor sehingga mendorong rapuhnya stabilitas moneter akibat terkurasnya dollar, juga karena hubungan ekonomi regional seperti MEA memberikan peluang tersendiri jika mampu dimanfaatkan. Jadi wirausahawan-wirausahawan Indonesia haruslah berpikir bahwa mereka akan mengekspor produknya ke pasar di luar negeri. Wirausahawan Indonesia perlu belajar dari negara-negara Asia lain yang menanjak ekonominya diawali oleh bangkitnya kelompok wirausaha. Jepang misalnya sempat menggemparkan dunia setelah perusahaan-perusahaan otomotif multinasionalnya merambah pasar dunia. Padahal negara ini sempat mengalami keterpurukan besar akibat kalah di PD II. Selain itu Korea Selatan juga memiliki visi global yang baik. Korea Selatan yang dengan Korea Utara tak berbeda jauh pada awalnya dari segi perekonomian, budaya dan geografinya namun kini mampu menjadi pusat industri elektronik dan entertainment dunia karena kewirausahaan yang tinggi. Begitu pun dengan China yang pertumbuhan ekonominya mencenangkan dan baru-baru ini salah satu perusahaannya elektroniknya, Lenovo berhasil mengakuisisi lini bisnis IBM, perusahaan multinasional AS. Negara yang tak terlalu jauh dengan Indonesia adalah India. Sama-sama negara plural, sama-sama emerging market, namun India kini berhasil capai progress mencengangkan ketika TATA Group yang membawahi bisnis otomotif hingga konsultansi merambah ke aras global termasuk ke Indonesia.

Di era yang serba terhubung secara global dan kesempatan bisnis terbuka lebar Indonesia perlu memiliki pemimpin berjiwa wirausaha. Pemimpin berjiwa wirausaha artinya mampu mandiri dan menciptakan nilai tambah bernilai ekonomis. Para lulusan perguruan tinggi sebaiknya berlomba-lomba untuk menciptakan produk atau jasa bernilai tambah yang bisa dijual dan berguna bagi masyarakat. Terlebih mereka yang berkuliah di jurusan teknik sebaiknya sanggup berinovasi menciptakan teknologi yang bernilai bisnis dan di sisi lain mampu memecahkan masalah masyarakat. Mereka yang berkuliah di bidang soaial dan seni sebaiknya juga berlomba membuat pusat-pusat nilai tambah (value centres) seperti lembaga konsultan, think tanks, lembaga pelatihan, dan layanan-layanan lainnya. Sebagai contoh lulusan jurnalistik tidak harus terpaku untuk mencari kerja di perusahaan media namun bisa juga membuat website informasi gaya hidup di tingkat lokal misalnya dimana ini bisa menarik audiens dan iklan. Dengan makin banyaknya inovasi, memungkinkan terbentuknya industri baru seiring pemain-pemain baru masuk ke industri itu menjadi pesaing. Semakin membesar industri itu semakin besar penciptaan lapangan kerja serta semakin besar kontribusi terhadap GDP. Terlebih di era internet ini, jalur distribusi telah terpangkas biayanya dengan sangat dramatis, siapapun bisa menjual apapun selama itu legal di internet kepada seluruh orang di seluruh dunia. Social business dan public-private partnership selanjutnya dapat menjadi skema ideal bagaimana bisnis bisa berkontribusi secara sosial.

Untuk bisa menjadi pemimpin mandiri berjiwa wirausaha, dibutuhkan beberapa kualifikasi spesifik. Pertama, pemimpin berjiwa wirausaha harus memiliki sikap positif, meliputi motivasi, daya bangkit setelah gagal, dan rasa percaya diri yang besar. Kedua, pemimpin berjiwa wirausaha harus memiliki kemampuan membaca peluang dimana ini memerlukan kreatifitas yang tinggi. Ketiga, diperlukan keberanian mengambil risiko, sebab ini ciri utama yang membedakan kelas entrepreneur dengan yang lain. Keempat, diperlukan kemampuan untuk mengalokasikan sumber daya. Artinya pemimpin harus mampu memberdayakan modal dan potensi yang dimiliki seoptimal mungkin kearah penciptaan nilai tambah.