Tags

, , , , , ,

Gambar

Oleh : Muhammad Fakhryrozi, Februari 2014

Optimisme dan Tantangan  

Menurut laporan McKinsey&Co, “Unleashing Indonesia’s Potential”, Indonesia saat ini adalah negara ke-16 yang ekonominya terbesar di dunia, dengan 45 juta kelas menengah, dan 55 juta tenaga kerja ber-skill. McKinsey&Co pun memprediksi bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan berada diurutan ketujuh yang ekonominya terbesar di dunia, dengan 135 juta kelas menengah, serta memiliki 113 juta tenaga kerja ber-skill.

Prediksi tersebut didasarkan salah satunya dari tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sangat baik selama satu dekade ke belakang dimana real GDP Indonesia tumbuh 5.2 % selama 2000 hingga 2010, ketiga tertinggi di dunia setelah China dan India.

Dalam laporan lain dari Boston Consulting Group tahun 2013 angka kelas menengah Indonesia yang menjadi motor bagi pertumbuhan ekonomi akan meningkat signifikan hingga tahun 2020.

Angka kelas menengah yang besar ini sangat penting artinya bagi perekonomian sebab merekalah yang akan menjadi konsumen utama didalam suatu negara sehingga akan berkontribusi pada peningkatan GDP yang akan menghidupkan perekonomian. Boston Consulting Group juga melaporkan, angka kelas menengah Indonesia tersebut akan tersebar di berbagai daerah, tidak hanya di Jawa. Hal ini menyiratkan pentingnya pemerataan pembangunan infrastruktur dan kapasitas SDM hingga ke daerah.

Selain angka kelas menengah yang signifikan dan terus meningkat Indonesia juga memiliki potensi lain yakni adanya “demographic dividend”, bonus demografi, dimana angka usia muda yang besar memungkinkan tingginya produktifitas akibat menurunnya depedancy ratio. Selain itu dari segi politik, pasca reformasi perpolitikan Indonesia dianggap relatif stabil sehingga memungkinkan petumbuhan ekonomi yang cukup baik secara konstan. Sejak 2004 pemilu lima tahun sekali berjalan dengan lancar tanpa berbagai konflik berarti. Kendati angka korupsi masih tinggi, sepak terjang KPK yang cukup memuaskan dan semangat rakyat yang ikut mendukung pemberantasan korupsi juga tinggi. Berbagai indikator yang ada memang menunjukan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar untuk sejajar dengan negara maju pada 2045.

Namun demikian indikator-indikator terkini lain seakan menunjukan pesimisme. Dalam indikator Human Development Index (indikator yang lebih luas cakupannya dibanding GDP, meliputi pendidikan, pemerataan, teknologi, inovasi, kesehatan dll) yang dilaporkan oleh UNDP tahun 2012 Indonesia masih ada diperingkat 121 dari 186 negara. Diantara negara-negara ASEAN, Indonesia yang terkategori medium development hanya lebih baik dibanding Myanmar yang terkategori low development. Baru-baru ini ekonom kenamaan Noriel Roubini mengatakan bahwa Indonesia bersama India, Brazil, Turki dan Afrika Selatan saat ini terkategori sebagai “the Fragile Five”. Negara-negara ini adalah negara-negara yang sebelumnya dianggap “emerging market” yang atraktif secara ekonomi namun sekarang dianggap rapuh akibat beberapa indikator seperti current account yang terus menerus defisit belakangan ini, pertumbuhan ekonomi yang melambat, kebijakan makroekonomi yang kurang efektif (sound) yang tercermin dari inflasi yang diatas target dan ketidakpastian politik. Dalam laporan yang dibuat oleh ASH Center of Democratic Governance and Innovation Harvard Kennedy School tahun 2013 disebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia dicirikan oleh tiga hal berikut: tidak berorientasi penciptaan lapangan kerja (jobless growth), tidak meningkatkan keunggulan (decliningcompetitiveness) dan meningkatkan kesenjangan.

Beberapa langkah strategis dan urgen bisa dilakukan untuk menyambut peluang kemajuan Indonesia di masa depan.Pertama adalah menata kualitas pendidikan melalui peningkatan kualitas guru dan pemberian beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Penyelesaian masalah dan peningkatan kualitas pembangunan dimulai dari peningkatan kualitas SDM yang dapat dilakukan dengan menata pendidikan. Faktor krusial dalam pendidikan Indonesia adalah kualitas guru, sebab dalam segi anggaran pendidikan Indonesia sudah cukup tinggi. Kedua adalah membangun infrastuktur yang menunjang petumbuhan ekonomi di daerah-daerah. Dengan ini rakyat di semua pelosok negeri dapat secara mandiri terlibat dalam aktifitas perekonomian. Partisipasi kegiatan ekonomi ini akan memajukan kesejahteraan dan pada gilirannya akan memajukan aspek-aspek lain seperti pendidikan hingga politik. Ketiga adalah membangun pusat-pusat R&D di berbagai wilayah Indonesia untuk memicu industrialisasi. Hal ini strategis karena industrialisasi sangat penting untuk menciptakan lapangan kerja dan ditengah deindustrialisasi yang terjadi sekarang. Keempat adalah menegakkan hukum. Ini penting sebab dengan penegakan hukum yang adil maka biaya ekonomi akan ditekan, kerugian-kerugian ekologis, sosial dan politik bisa ditekan, stabilitas keamanan pun dapat dijaga.

Lanskap Dunia yang Berubah

MarkPlus,Inc, lembaga konsultan bisnis Indonesia kenamaan mempublikasikan suatu konsep mengenai perubahan lanskap terkini yang terjadi di dunia. Menurut konsep tersebut lanskap dunia kini telah memasuki lanskap “new Wave”. Dalam lanskap ini perekonomian dunia menjadi semakin inklusif dimana terjadi liberalisasi aktifitas bisnis di dalam suatu negara maupun lintas negara. Perpolitikan pun menjadi semakin demokratis dimana rakyat di seluruh dunia makin menghendaki gaya kepemimpinan yang egaliter dan bisa menampung aspirasi mereka. Hal ini dicirikan oleh berlangsungnya Arab Springs yang masih memicu pergolakan di kawasan Timur Tengah hingga saat ini. Lanskap baru ini sebagaimana diungkapkan oleh Dorodjatun Kuntjoro Jakti didorong oleh memendeknya jarak karena sistem transportasi yang makin canggih, berpindahnya lokasi komunikasi dari offline ke online akibat perkembangan teknologi digital dan internet dan semakin efisiennya waktu interaksi akibat perkembangan moda transportasi dan teknologi telekomunikasi digital tersebut.

Perubahan lanskap ini dialami oleh generasi baru yang disebut sebagai generasi Y (lahir tahun 1977 – 1997) serta generasi Z (lahir tahun 1998-sekarang) membuat generasi baru ini amat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Don Tapscott dalam bukunya “The Grown Up Digital” mengatakan bahwa telah muncul norma-norma baru pada diri generasi Y dan Z itu. Kedelapan norma itu adalah: kebebasan, kustomisasi, penyelidikan, integritas, kolaborasi, hiburan, kecepatan dan inovasi. Tren tersebut terjadi juga di Indonesia. Pemimpin masa depan Indonesia harus mampu memahami dan beradaptasi dengan norma-norma baru tersebut.

Kualifikasi Kepemimpinan Indonesia Masa Depan

Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara maju di kemudian hari namun peluang itu tak akan dapat terwujud jika berbagai tantangan yang ada hari ini tidak terselesaikan. Untuk itu dibutuhkan kepemimpinan yang mumpuni di semua bidang menghadapi masa depan.  Para pemimpin ini juga selain perlu mampu untuk memecahkan berbagai persoalan yang ada perlu juga mampu menghadapi tantangan lanskap baru yang disebutkan diatas.

Kepemimpinan Indonesia yang saya maksud adalah kepemimpinan yang kolektif, bukan kepemimpinan yang ditumpukan ke pundak satu orang presiden. Artinya para pemimpin ini perlu tersebar di berbagai bidang dari mulai sektor publik, sektor swasta, sektor ketiga, hingga sektor akademik. Kendati judul essay ini adalah “Pemimpin Indonesia Emas 2045” namun generasi muda tidaklah perlu menunggu untuk menjadi pemimpin hingga tahun 2045. Mereka bisa menjadi pemimpin dari sekarang sembari meningkatkan kapasitasnya untuk memimpin secara lebih baik sehingga bisa menjadi bagian dari upaya untuk menghantarkan Indonesia ke keemasannya pada tahun 2045, 100 tahun setelah kemerdekaan.

Mengacu pada tantangan-tantangan yang telah diungkapkan diperlukan kualifikasi pemimpin yang sesuai dengan tantangan-tantangan tersebut. Namun demikian menurut saya masing-masing sektor memiliki kualifikasi tersendiri sebab masing-masing sektor bahkan masing-masing peran memiliki karakteristiknya yang khas. Sebagai contoh pemimpin sektor publik dalam ranah eksekutif tentunya perlu memiliki kemampuan eksekusi yang mumpuni, sementara pemimpin di ranah legislatif lebih membutuhkan kemampuan intelektual dan berkomunikasi yang baik dibanding kemampuan mengeksekusi. Pemimpin di sektor akademis lebih dituntut untuk mahir dalam menelurkan konsep-konsep terkini sesuai perkembangan zaman dibanding kemampuan untuk berpolitik.

Namun menurut ada beberapa kualifikasi umum yang perlu dimiliki oleh pemimpin disemua sektor di era kini menyongsong Indonesia emas tahun 2045. Pertama adalah meritokratis, yakni sikap menonjolkan kapasitas dan prestasi untuk meraih pengaruh ketimbang budaya feodalisme atau senioritas. Sikap ini melandasi spirit jaman baru yang menekankan egaliterisme. Kedua adalah demokratis, yakni sikap anti otoriterisme yang sesuai dengan spirit jaman ini. Ketiga adalah kolaboratif, yakni sikap terbuka akan kolaborasi dengan semua pihak dan tidak terpaku pada semangat berkompetisi semata namun secara fleksibel memadukannya dengan kolaborasi.  Keempat, dinamis, yakni sikap untuk senantiasa fleksibel menghadapi tantangan terbaru. Hal ini penting mengingat perubahan dan inovasi telah menjadi norma baru di jaman ini, sehingga pemimpin haruslah adaptif dengan perubahan-perubahan yang saat ini makin cepat temponya. Kelima, integritas dan idealisme, yakni kemampuan untuk mampu berikap transparan, memegang teguh kebenaran dan sesuai antara ide, gagasan, perkataan dan perbuatan. Idealisme yang dimaksud tentunya adalah rasa nasionalisme yang tinggi yang membuatnya menomorsatukan kepentingan rakyat Indonesia secara keseluruhan atas kepentingan kelompok apalagi kepentingan asing serta secara proaktif membuat langkah-langkah perbaikan dalam semua sendi bangsa terlepas dari apapun haluan politik dan ideologinya. Terutama bagi pemimpin di sektor publik, kualifikasi kelima menjadi urgen, yakni kemampuan menjalin hubungan dengan orang-orang berbagai latar belakang, terlebih di negara yang plural seperti Indonesia.

Peran Generasi Muda

Generasi muda saat ini adalah pemimpin Indonesia di masa depan. Maka sebaiknya generasi muda saat ini mengembangkan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kepemimpinan baru yang disebutkan diatas. Amat disayangkan pada hari ini menurut saya generasi muda Indonesia masih jauh dari nilai-nilai tersebut. Contohnya dalam hal meritokrasi, kebanyakan mereka masih belum paham arti penting kompetensi untuk menjadi pemimpin. Sehingga kursus-kursus, melanjutkan pendidikan, membaca buku-buku yang mampu meningkatkan skill belumlah menjadi prioritas pertama generasi muda Indonesia.

Saya sendiri sebagai bagian dari generasi muda Indonesia bercita-cita ingin mendirikan perusahaan konsultan di bidang manajemen bisnis dan manajemen kebijakan publik. Dengannya saya bisa menciptakan lapangan kerja sembari mentransfer pengetahuan yang saya peroleh melalui pendidikan tinggi kedalam bentuk best practices yang bisa digunakan oleh institusi-institusi swasta dan pemerintahan untuk meningkatkan kinerjanya. Menurut saya peran konsultatif ini sangat strategis untuk memperbaiki berbagai masalah bangsa. Hal ini disebabkan masih banyaknya ditemui kelemahan dalam hal kapasitas organisasi dalam tubuh institusi bisnis serta dalam kualitas kebijakan publik yang dibuat oleh badan-badan sektor publik. Saya juga ingin menelurkan konsep-konsep terbaru dalam dunia manajemen yang mampu menjawab tantangan jaman.

Rujukan:

  1. McKinsey Report 2013, “Unleashing Indonesia’s Potential”
  2. BCG Report 2013, Asia’s Next Big Opportunity”
  3. Don Tapscott, “The Grown Up Digital” (2013)
  4. Waizly Darwin (MarkPlus, Inc), “Connect” (2011)
  5. ASH Center For Democratic Governance and Innovation, “The Sum is Greater than The Parts, Doubling Shared Prosperity in Indonesia Through Local and Global Integration” (2014)
  6. Nouriel Roubini (www.projectsyndicate.com), “The Trouble With Emerging Market” (2014)
  7. Kishore Mahbubani, “Asia New Hemisphere of the World” (2008)